
Wisata Religi dan Sejarah di Masjid Raya Baiturrahman Aceh – Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu ikon paling bersejarah dan sakral di Provinsi Aceh. Terletak di jantung Kota Banda Aceh, masjid ini bukan hanya menjadi pusat ibadah umat Islam, tetapi juga simbol keteguhan iman, perjuangan, dan identitas masyarakat Aceh sejak ratusan tahun lalu. Keindahan arsitekturnya yang megah berpadu dengan nilai sejarah yang panjang menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai destinasi wisata religi dan sejarah yang selalu ramai dikunjungi, baik oleh peziarah maupun wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.
Didirikan pertama kali pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, Masjid Raya Baiturrahman telah melewati berbagai fase penting dalam perjalanan sejarah Aceh, termasuk masa kolonial, konflik, hingga bencana besar tsunami tahun 2004. Keberadaan masjid ini seolah menjadi saksi bisu sekaligus penopang spiritual masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai ujian zaman. Tak heran jika hingga kini, Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya dipandang sebagai bangunan ibadah, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan dan keteguhan hati rakyat Aceh.
Sejarah Panjang dan Peran Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun pada tahun 1612 pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, salah satu sultan terbesar dalam sejarah Kesultanan Aceh. Pada awalnya, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, serta tempat bermusyawarah bagi para ulama dan pemimpin kerajaan. Dari sinilah berbagai kebijakan dan dakwah Islam berkembang, menjadikan Aceh dikenal sebagai “Serambi Mekkah”.
Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Raya Baiturrahman mengalami berbagai peristiwa penting. Pada masa agresi Belanda, masjid ini pernah dibakar pada tahun 1873 saat pecahnya Perang Aceh. Peristiwa tersebut justru memicu perlawanan hebat dari rakyat Aceh yang menjadikan masjid sebagai simbol perjuangan melawan penjajahan. Belanda kemudian membangun kembali masjid ini pada tahun 1879 dengan gaya arsitektur Indo-Saracenic, yang menjadi cikal bakal bentuk masjid yang dikenal saat ini.
Peran Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya terbatas pada fungsi ibadah. Masjid ini juga menjadi pusat perlawanan moral dan spiritual masyarakat Aceh. Para ulama sering menyampaikan khutbah dan ceramah yang membangkitkan semangat jihad dan persatuan. Hingga kini, nilai-nilai perjuangan tersebut masih terasa kuat, terutama saat pengunjung mendengarkan kisah-kisah sejarah yang melekat pada setiap sudut masjid.
Tragedi tsunami 26 Desember 2004 menjadi babak sejarah paling memilukan sekaligus mengharukan. Ketika gelombang besar meluluhlantakkan Banda Aceh dan sekitarnya, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Ribuan orang berlindung di halaman dan bangunan masjid, menjadikannya simbol harapan dan perlindungan di tengah bencana. Sejak saat itu, masjid ini semakin dikenal dunia sebagai lambang keteguhan iman dan keajaiban spiritual.
Keindahan Arsitektur dan Daya Tarik Wisata Religi
Selain nilai sejarahnya yang kuat, Masjid Raya Baiturrahman juga memikat melalui keindahan arsitekturnya. Masjid ini memiliki tujuh kubah besar berwarna hitam yang terbuat dari kayu jati dan dilapisi sirap, menciptakan kesan anggun sekaligus kokoh. Delapan menara menjulang tinggi mengelilingi bangunan utama, menambah kemegahan serta menjadi ciri khas yang mudah dikenali.
Interior masjid dihiasi dengan ornamen khas Islam yang detail dan elegan. Pilar-pilar besar berwarna putih, lampu gantung kristal, serta kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an menciptakan suasana khusyuk dan menenangkan. Lantai marmer yang sejuk membuat pengunjung merasa nyaman, baik saat beribadah maupun sekadar menikmati keindahan ruang dalam masjid.
Halaman Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi daya tarik tersendiri. Lapangan luas dengan payung-payung raksasa yang dapat dibuka dan ditutup mengingatkan pengunjung pada Masjid Nabawi di Madinah. Area ini sering digunakan untuk kegiatan keagamaan, peringatan hari besar Islam, serta menjadi tempat berkumpul masyarakat dan wisatawan. Pada sore hari, suasana halaman masjid semakin indah dengan cahaya matahari yang perlahan tenggelam, menciptakan panorama yang menenangkan.
Sebagai destinasi wisata religi, Masjid Raya Baiturrahman terbuka bagi pengunjung non-Muslim dengan tetap menjunjung tinggi adab dan tata tertib. Pengelola masjid menyediakan sarung dan pakaian sopan bagi wisatawan yang ingin masuk ke area utama. Hal ini mencerminkan keramahan dan keterbukaan masyarakat Aceh dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada dunia.
Tak jauh dari masjid, terdapat berbagai fasilitas pendukung seperti museum kecil, pusat informasi sejarah, serta kawasan wisata kuliner khas Aceh. Wisatawan dapat menikmati kopi Aceh yang terkenal atau mencicipi kuliner tradisional setelah berkunjung ke masjid. Dengan demikian, pengalaman wisata tidak hanya bersifat spiritual dan historis, tetapi juga budaya.
Kesimpulan
Masjid Raya Baiturrahman Aceh merupakan perpaduan sempurna antara wisata religi dan sejarah. Bangunan megah ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjuangan, keteguhan iman, dan identitas masyarakat Aceh dari masa ke masa. Sejarah panjang yang melekat, mulai dari era Kesultanan Aceh, masa penjajahan, hingga peristiwa tsunami, menjadikan masjid ini memiliki nilai emosional dan spiritual yang sangat kuat.
Keindahan arsitektur, suasana religius yang khusyuk, serta keterbukaan terhadap wisatawan menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Aceh. Lebih dari sekadar objek wisata, masjid ini mengajarkan tentang keteguhan, harapan, dan kekuatan iman dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna.