Thomas Matulessy dan Perjuangan Rakyat Maluku Melawan Penjajah

Thomas Matulessy dan Perjuangan Rakyat Maluku Melawan Penjajah – Thomas Matulessy, yang lebih dikenal dengan nama Pattimura, merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Maluku. Namanya tidak hanya dikenang sebagai pemimpin perlawanan bersenjata, tetapi juga sebagai simbol keberanian, persatuan, dan semangat anti-penjajahan rakyat Maluku pada awal abad ke-19. Perjuangan Pattimura terjadi pada masa ketika rakyat Maluku mengalami penindasan berat akibat kebijakan kolonial Belanda yang merugikan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

Kisah Thomas Matulessy bukan sekadar cerita heroik masa lalu, melainkan bagian penting dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Perlawanan yang dipimpinnya membuktikan bahwa semangat kemerdekaan telah tumbuh di berbagai daerah Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka secara resmi pada tahun 1945.


Latar Belakang Thomas Matulessy dan Kondisi Maluku

Thomas Matulessy lahir pada 8 Juni 1783 di Haria, Pulau Saparua, Maluku. Ia berasal dari keluarga yang memiliki pengaruh di masyarakat setempat. Sebelum dikenal sebagai pemimpin perlawanan, Matulessy sempat menjadi serdadu Inggris ketika Inggris menguasai Maluku dari tangan Belanda pada awal abad ke-19. Pengalaman militernya inilah yang kemudian membentuk kemampuan kepemimpinan dan strategi perangnya.

Setelah kekuasaan Maluku kembali ke tangan Belanda pada tahun 1817, kondisi rakyat semakin memburuk. Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan berbagai kebijakan yang menindas, seperti kerja paksa (rodi), pajak yang tinggi, serta monopoli perdagangan rempah-rempah. Rakyat dipaksa menjual hasil bumi dengan harga murah, sementara kehidupan mereka semakin miskin dan tertekan.

Tidak hanya itu, Belanda juga mengabaikan perjanjian-perjanjian yang sebelumnya dibuat dengan masyarakat Maluku. Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam, terutama di kalangan pemuka adat dan rakyat yang merasa hak-hak mereka diinjak-injak. Dalam situasi inilah Thomas Matulessy tampil sebagai sosok pemimpin yang menyatukan kemarahan dan harapan rakyat Maluku.

Pada tanggal 15 Mei 1817, perlawanan rakyat Maluku secara terbuka meletus di bawah pimpinan Pattimura. Ia diangkat sebagai kapitan besar oleh para pemimpin adat dan tokoh masyarakat. Dukungan rakyat begitu kuat karena Pattimura tidak hanya berjuang untuk kekuasaan, melainkan untuk keadilan dan kebebasan hidup rakyat Maluku.


Perjuangan Pattimura Melawan Penjajah Belanda

Perjuangan Pattimura dimulai dengan serangan terhadap Benteng Duurstede di Saparua, yang menjadi simbol kekuasaan Belanda di wilayah tersebut. Serangan ini berhasil menewaskan Residen Belanda dan membuat pasukan kolonial terdesak. Keberhasilan awal ini membangkitkan semangat perlawanan di berbagai wilayah Maluku lainnya, seperti Haruku, Nusalaut, dan Seram.

Pattimura dikenal sebagai pemimpin yang tegas namun dekat dengan rakyat. Ia mampu mengorganisasi perlawanan dengan memanfaatkan pengetahuan lokal tentang medan perang, serta mengandalkan semangat gotong royong masyarakat. Perlawanan ini tidak hanya melibatkan laki-laki, tetapi juga perempuan dan anak-anak yang berperan dalam logistik dan komunikasi.

Namun, Belanda tidak tinggal diam. Mereka mengirim pasukan tambahan dengan persenjataan yang lebih modern untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku. Dalam kondisi persenjataan yang tidak seimbang, Pattimura dan pasukannya tetap bertahan selama beberapa bulan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tekad rakyat Maluku dalam mempertahankan tanah air mereka.

Sayangnya, perlawanan tersebut akhirnya melemah akibat pengkhianatan dan tekanan militer yang terus-menerus. Pattimura tertangkap pada bulan November 1817 setelah dikhianati oleh pihak yang bekerja sama dengan Belanda. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi dengan cara digantung pada 16 Desember 1817 di Ambon.

Meskipun perjuangan bersenjata Pattimura berakhir dengan kematiannya, semangat perlawanan yang ia tanamkan tidak pernah padam. Kisahnya menyebar luas dan menjadi inspirasi bagi perlawanan-perlawanan di daerah lain. Pattimura membuktikan bahwa penjajahan tidak akan pernah bisa memadamkan semangat kebebasan rakyat.


Kesimpulan

Thomas Matulessy atau Pattimura merupakan simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap penindasan kolonial Belanda. Perjuangannya lahir dari ketidakadilan dan penderitaan yang dialami rakyat akibat kebijakan kolonial yang kejam. Dengan keberanian, kepemimpinan, dan dukungan rakyat, Pattimura mampu mengguncang kekuasaan Belanda di Maluku meskipun akhirnya harus gugur di tiang gantungan.

Nilai-nilai perjuangan Pattimura—seperti keberanian, persatuan, dan cinta tanah air—tetap relevan hingga saat ini. Ia tidak hanya dikenang sebagai pahlawan Maluku, tetapi juga sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mengenang Pattimura berarti mengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui pengorbanan besar dari para pejuang di berbagai daerah, termasuk dari bumi Maluku yang kaya akan sejarah dan semangat perlawanan.

Scroll to Top